Berwarna kuning segar, dan matang tepat di musim buah durian... Baru dilihat saja sudah menggiurkan, apalagi dibuka? Santi membatin.
Ibunya melihat dari kejauhan tingkah laku anak bungsunya itu... "Kalau kamu mau, ambil aja, sebagai hadiah kamu naik kelas" kata Ibunya... "hah? nggak bu, nanti mahal, lagian kan aku gak bisa makan durian! hehehe" jawab Santi jenaka, " Bohong, masa orang Medan gak bisa makan duren? Tahun lalu aja kamu yang ngabisin sampai 2 buah!" jawab Ibunya, "Iss, Ibu! Banyak oraaang, lagian juga aku kan cuman makan 1/2 buah, bang Ahmad yang ngabisin sisanya!" jawab Santi.
Ibunya melihat dari kejauhan tingkah laku anak bungsunya itu... "Kalau kamu mau, ambil aja, sebagai hadiah kamu naik kelas" kata Ibunya... "hah? nggak bu, nanti mahal, lagian kan aku gak bisa makan durian! hehehe" jawab Santi jenaka, " Bohong, masa orang Medan gak bisa makan duren? Tahun lalu aja kamu yang ngabisin sampai 2 buah!" jawab Ibunya, "Iss, Ibu! Banyak oraaang, lagian juga aku kan cuman makan 1/2 buah, bang Ahmad yang ngabisin sisanya!" jawab Santi.
Ibu dan anak itu pulang... "Wah, ibu beli duren, Santi! abisin yah" Kata Karin, kakak keduanya setelah bang Ahmad "hehe, bantuin dong, biar kakak kurus" kata Santi "males ah, lagi Diet!" kata kakaknya "hah? Diet darimana? badan tambah melar gitu... kemarin aja makan mi goreng sampai 2 bungkus belum kenyang juga! pake nasi lagi! ehh, main telen susu sereal yang adek bikin" jawab Santi. "Enak aja, emang diet mudah apa? hmm belum tau rasanya Diet yah, anak kecil gak bakalan tau" jawab kakaknya sombong sembari menyempilkan cengiran mengejek.
"Assalamualaikum" ada yang datang, "Wa'alaikumsalam," jawab Santi sembari berlari membuka pintu. "Oh, bang Ahmad!" "hmm Bau apaan nih... bikin laper." kata Ahmad senyum-senyum.
"Ada duren" kata Santi "Oh... Pesta duren, pesta duren, duren duren, duren duren, uen uen" kata Ahmad sambil joget-joget gak jelas kegirangan.
"Ada duren" kata Santi "Oh... Pesta duren, pesta duren, duren duren, duren duren, uen uen" kata Ahmad sambil joget-joget gak jelas kegirangan.
"Loh, apa ini kok ribut-ribut?" sahut ayah mereka bertiga. "oooh ada duren" jawabnya langsung... "Ahmad makannya jangan banyak-banyak!" kata ayahnya "hah, iya!! lagian juga aku kan anak baik... gak kayak Santi, isi badannya cuman tulang ama dosa doang" kata Ahmad "eh, enak aja, Gini-gini banyak yang suka, ranking 1 lagi, abang yang kegendutan!" sahut Santi "sayang, aku bukannya gendut, cuman lupa diri aja waktu makan"
Lalu mereka makan malam, dan ditutup dengan durian... Hanya 1 Durian, tapi cukup membahagiakan 5 orang, 1 keluarga.
Bukan Tentang Durian, Tapi kehangatan dan kebersamaan keluarga yang utuh
Utuh, Ayah Ibu dan Anak-anak mereka
Harapan, meniti Harapan dengan Kebersamaan...
2 bulan kemudian
"aku pulang"
"aku pulang"
"selamat datang"
"huh, Ayah" Sahut 2 manusia itu, Ahmad dan Santi sedih
"sudah 2 bulan ya dik" kata Ahmad
"ya, aku beli durian nih" jawab Santi
"setelah malam itu, kamu ingat?"
"hmm, ya bang... tabrakan itu"
"..."
"..."
Keduanya terdiam, 2 anak itu ditakdirkan untuk hidup, setelah kehilangan Ibu Ayah dan Karin.
"sudah 2 bulan ya dik" kata Ahmad
"ya, aku beli durian nih" jawab Santi
"setelah malam itu, kamu ingat?"
"hmm, ya bang... tabrakan itu"
"..."
"..."
Keduanya terdiam, 2 anak itu ditakdirkan untuk hidup, setelah kehilangan Ibu Ayah dan Karin.
Dalam kecelakaan, ketika mereka berdua dititipkan dirumah nenek...
Sementara Ibu Ayah dan Karin, pergi membeli sarapan...
Sementara Ibu Ayah dan Karin, pergi membeli sarapan...
Pedih, jerit hati, ingin tangisi, namun hanya sendiri
Kesedihan, bagaikan sebuah dahan, pondasi kehidupan pribadi
Tangis tak ada arti, melebihi kemampuan mereka
Tuhan berkuasa, Tuhan Adil, Kematian itu pantas, tinggal menunggu waktu
"Oiya, nih Buat uang jajan"
"hah? uang darimana kak?"
Tuhan berkuasa, Tuhan Adil, Kematian itu pantas, tinggal menunggu waktu
"Oiya, nih Buat uang jajan"
"hah? uang darimana kak?"
" ya kerja lah, terus uang "kasihan" dari kantor mama dan papa... kata mereka, mereka mau memberi kita uang tiap bulannya, sebagai uang... "
"pensiunan?"
"entahlah, kurang lebih seperti itu"
Tertegun mereka berdua, waktu tak bisa diulang...
"mau durennya gak?"
"mau tapi setelah makan malam"
"ooh yaudah"
"ooh yaudah"
Obrolan dialihkan, tapi mereka tak mampu membohongi, sakit hati mereka tak bisa dilukiskan kata-kata.
Akhirnya, Obrolan pun berakhir...
"huh, Ayah..." Sahut mereka berdua
TAMAT... T.T,

siiiiiiippppppppp!!!!!!!!!!!!!
ReplyDelete