Saturday, April 17, 2010

Monochrome

"Kabut... Itu cermin masa depan"

"Lovin' you... its easy because of your beautifull"
"Makin' love with you... is all i wanna do"
Terdengar lagu dari kamar Ovy... Yap, dia memang sedang jatuh cinta

Ovy adalah anak cantik yang periang, pintar berbahasa Inggris, karena tuntutan keluarga mereka
Ayahnya bekerja di luar negeri, di Skotlandia.
Ibunya bekerja di luar negeri, di Kanada.
Sedangkan dia tinggal di Indonesia bersama kakak-kakaknya juga adik kesayangannya

"Ovyyy! ada yang nelpon! Lu angkat cepetaaan!" kata adiknya, Dewi
"Sabar adikku sayaaang!" jawab Ovy
"Huek, iih najis!" Kata adiknya

"Halo? Dengan Ovy speaking, Wassup dude, Anything problem, cup cup cup cup"
"Vy? Ni aku, Rena! Kok lu mirip Jeng Kellin sih"
"Hehe, iseng-iseng berhadiah, lumayan kalo dapet piring cantik!"
"Dasar gila! Eh, lu udah selesai tugas cerpen belum?"
"Udah dong, yang kayak 'berlari-lari ke hulu, berenang-renang ke tepian' kan?"
"Semprul! Itu peribahasa! Cerpen buuk! Cerpen!"
"Hahahah, udah dong Ovy gituloh"
"Songong"

Esoknya, Di sekolah International tempat Ovy sekolah, Ada yang menyahut Ovy dari belakang... "Hey, Vy. How's doing?" Kata Gerald, pacarnya, dan umurnya 1 tahun dibawah Ovy
"O'hy, babe, emm... Wanna hang out?"
"Nah, I've homework to do... Maybe sometime!"
"What kind of homework, you usually don't seem busy"
"Uhh well, write an Essay about your future"
"Future?"
"A-about what am i wanna be, eh-heh"
"Hmm, That essay."
"What is it?"
"Lemme help you" kata Ovy
"Wha-? No, no, you're busy right?"
"Nope, I'm sure you gonna need my help"
"Hm? No i'm not" sergah Gerald
"Can you write in Indonesian Language?"
"..." Gerald bengong
"There..."
"A bit, Okay you can come in, but eat nothing! Got it?" kata Gerald
"Okay!" Jawab Ovy ceria

"It's done!" kata Ovy menyelesaikan tugas Gerald
"Well done..." kata Gerald
"So, you wanna be a Doctor"
"Yeah, it is..." Jawab Gerald sedih
"Why the long face?"
"Nothing"
"Say it"
"I don't wanna be a Doctor"
"Why? you're smart"
"..."
"You're unique, you're you, of course you'll be a Doctor"
"I'm afraid, i can't, i will not be a Doctor, i'm afraid i can be nothing, i'm afraid to be another people, i'm just nothing, i'm useless" Kata Gerald
"Owwh, come here lemme show you something" Kata Ovy

Gerald mendekati Ovy, tanpa diduga, Ovy memeluk Gerald.
"You're too soon to think about it, Our life are like Mist... Mist is a mirror of future"
"mph, hiks" Gerald tersedu-sedu
"You have a flat life, a Monochrome life. Try to walk away and face another people's live"
"..."
"Of course you're gonna be whatever you like! i believe! i believe because i give my faith on you" (saat yang sama, terdengar lagu "Because you love me" Celine Dion)
"..."
"I know who you're, and i believe you can do it"
"Vy" melepaskan tangannya dari pelukan Ovy
"Ahahah, I'm just big mouthed back there, heheh, and..." kata Ovy cengengesan garuk-garuk kepala
"i love you" kata Gerald pelan
"m?"
"Ak-Aku chinta kamu" kata Gerald terbata-bata

Segera Ovy memeluk Gerald
"I love you, too"

Gerald membalas pelukan Ovy
"Thanks for everything" (disini, alunan lagu "Because you love me" usai)

TAMAT

Tuesday, April 13, 2010

Bermain dengan bayangan

"Kegelapan adalah kesepian, sehingga kau berpikir kau tidak sendirian"

UN, Ujian Negara waktu SMP
Ketakutan semu, akan waktu yang tak mampu kuulang

Dulu, saya hanyalah seorang pemalas...
Hanya mau menang... Hanya mau menjadi pahlawan
Langsung saja kita ke TKP! huahahah

Di ruangan kamarku dulu, bohlam lampu mati dan belum sempat diganti, kamarku yang gelap juga penuh perenungan
Tinggal seminggu lagi aku akan menjalani Ujian Nasional. Tapi, aku tak mampu menahan perihnya, sakitnya perenungan ku pada saat itu
Atmosfir di kamar itu kosong, hanya paling tidak, terdengar suara TV di ruang tamu, seperti biasa, masih seringnya sinetron yang ditayangkan setelah maghrib.

"Orangtuaku, abang-abang, om dan tante... aku telah banyak mengecewakan orang, kali ini bagaimana?" kataku dalam hati
"Oh, aku merasa kosong... Bagaimana aku bisa lulus? Aku sungguh tak mahir dalam apapun!" kataku selanjutnya
"Oh, kalau aku tidak lulus. Aku harus mengulang lagi, tapi tak 'kan ada yang sudi membiayai aku..." kataku cemas
"Tapi aku tidak mampu. Aku tidak mampu melanjutkan ke jenjang SMA. Aduh!?" kataku kalut

"Oh, santai saja... kau tak akan lulus" kata seseorang(?), yang memiliki suara sepertiku, tepat dibelakangku
"S-siapa...?" kataku kalut juga bingung
"Sederhana, cukup panggil aku Lu!"
Aku menghadap kebelakang. Aku melihat diriku sendiri, dan seolah waktu berhenti
"OK Lu, siapapun kau, kau sangat membantu!" jawabku marah
"Oh tentu saja, pasti! Lagipula kau hanya seorang pemalas"
Aku terdiam
"Pasti! kau juga adalah penipu! Mengatakan semuanya baik-baik saja pada orang lain"
Aku kembali terdiam, dan dia mulai tersenyum
"Dan, kau tak lebih daripada pengecut. Dengan manjanya menginginkan kelulusan tanpa melakukan apapun!"
Aku hanya mendesah ketakutan, dan dengan sumringah, bayangan itu melanjutkannya.
"Hahaha. Dan kau adalah seorang yang bodoh, kau tak tahu apapun tentang mata pelajaran" katanya
"A-apa? Tolong hentikan!" kataku mengumpulkan tenaga mencerna suasana
"Oh, kau tak berharga, kau cengeng, kau ceroboh, kau boros! Kau bahkan tak berhak menjadi manusia, gedoy!" Jawab Lu
"B-bagaimana kau tahu? Tentang itu semua!" tanyaku panik

"Aku tahu! karena kau adalah aku!" jawab Lu
"..."
"Aku sudah bosan jadi bayanganmu...!" kata Lu
"Tidak, tidak, tidak..."
"Bahkan kau takut padaku, bukankah kau menyukai kegelapan? Hati yang tertanam melalui kejahatan"
"Aku tahu itu semua. Aku tahu aku takut. Aku tahu tentang masa laluku! Tapi, ini semua tidak ada hubungannya"
"Ooouh!" kata Lu dengan nada mengejek
"Aku telah memikirkan itu semua, aku akan mengalami itu semua, itu sebuah jalan, itu semua sebuah takdir, aku juga tahu rasanya jadi dirimu, aku juga dulu pernah menjadi bayangan orang lain, dan aku bosan juga..." kataku, mengatakan apapun yang ada
"..." kini Lu terdiam

"Lagipula ini hanya ujian, bukan? Lalu apa salahnya belajar?" kataku, klise, abangku pernah mengatakannya padaku
"..." jawab Lu
"Terima kasih Lu, kau telah membuka mataku..."

Lu tersenyum, lalu menghilang
Aku hanya tahu, dia mengetahuiku
Dia adalah bayangan, cermin ketakutan dari diriku sendiri

Mulai saat itu, aku belajar
Aku belajar, berbagai macam hal
Aku menyadari, apapun yang kulakukan, akan berakhir dengan Lu menghina diriku, dengan cara yang sangat membuatku tidak nyaman akan hal itu

Sehingga aku memiliki kalimat favorit ku saat itu
"Selama kau memiliki bayangan, kau akan mampu melihat jauh ke belakang, tepat ke masa lalu"

TAMAT

Friday, April 9, 2010

Yudi...

Yudi adalah seorang anak berumur 5 tahun, anak kecil... tapi dia memiliki ibu tiri namanya Bu Eri... ibu kandungnya meninggal...
jadi... ayahnya menikahi Eri, teman lamanya, kekasihnya yang dulu...

"Yudi, ayo kita pulang" kata Eri
"nggak mau, mendingan aku pulang ama Rasti" kata Yudi sembari menjauhi ibu tirinya

"anak itu, entah bagaimana aku berkomunikasi bagaikan ibu dan anak" katanya kepadaku
aku bekerja di sebuah TK... tak jarang banyak anak-anak yang senang menjahiliku...

"anda... sudah berbicara dengannya dirumah?" jawabku
"sudah, aku sudah mencoba... tapi kasihan juga, sekecil itu sudah memiliki ibu tiri" serunya sedih
"apa kamu mencintai Yudi?"
"hag? tentu saja ya..."

percakapan itu berlanjut hingga sore hari sampai kami pulang.

esoknya, di TK tempat saya bekerja
"Yudi, pernah nggak kamu bicara ama mama kamu?"
"hm... pernah" jawabnya polos
"apa kamu suka dengannya?" kataku
"aah... hm..." jawab Yudi, pucat
"kamu pengen apa sih sekarang?" tanyaku, sepertinya aku memiliki ide!
"haa... pengen robot Gundam!"

lalu ketika Bu Eri menjemput Yudi
Yudi masih menolak untuk pulang bersamanya
"Baiklah kalau begitu!" kata ibu Yudi sembari meninggalkan TK tempatku bekerja
jadi, aku pulang bersama Yudi...
di tengah jalan, aku dan Yudi, bertemu Bu Eri sedang tersedu-sedu di sebuah gazebo di kompleks perumahan mereka
"Dia membenci Yudi" sahut Yudi berbisik
"dia ibumu, tak mungkin dia marah padamu..." kataku

aku menghampiri Bu Eri...
"oh!" kata Bu Eri terkejut
"hai bu!" sapaku...
"kamu dengan Yudi?"
aku hanya melirik pada Yudi, yang memunggungiku
"kamu tahu kenapa aku menjemput Yudi?"
"gak?"
"yah, ayahnya adalah orang yang sibuk... jadi dia tidak dapat menjemputnya... aku memiliki inisiatif untuk dekat dengannya, seperti ibu dan anak" jawabnya
"oh gitu" kataku, tak mampu menjawab
"Yudi, ayo kita pulang" serunya
"hah? OK!"

esoknya
aku menjelaskan apa yang Yudi mau tentang mainan Gundam
"oh, itu sesuatu yang..."
"patut dicoba?" jawabku memotong.
"ya, terima kasih, kau sangat membantu.

dan ya!
besoknya Yudi menceritakan semuanya
padaku... hanya padaku
"bang, aku dapat mainan yang aku pengen"
"oh yah? dari siapa?"
"mama..."
"kan udah dibilangin, dia itu ibumu, tak mungkin dia membencimu" kataku
"ahahah" tawa ceria khasnya

dari hari ke hari
aku melihat ikatan itu
ikatan yang solid
tidak perlu tiri atau kandung
... sebuah ikatan ...
.. antara ibu ..
. dan anak .

TAMAT

Friday, April 2, 2010

Keluarga Duren

Santi memandangi buah durian yang segar itu...
Berwarna kuning segar, dan matang tepat di musim buah durian... Baru dilihat saja sudah menggiurkan, apalagi dibuka? Santi membatin.

Ibunya melihat dari kejauhan tingkah laku anak bungsunya itu... "Kalau kamu mau, ambil aja, sebagai hadiah kamu naik kelas" kata Ibunya... "hah? nggak bu, nanti mahal, lagian kan aku gak bisa makan durian! hehehe" jawab Santi jenaka, " Bohong, masa orang Medan gak bisa makan duren? Tahun lalu aja kamu yang ngabisin sampai 2 buah!" jawab Ibunya, "Iss, Ibu! Banyak oraaang, lagian juga aku kan cuman makan 1/2 buah, bang Ahmad yang ngabisin sisanya!" jawab Santi.

Ibu dan anak itu pulang... "Wah, ibu beli duren, Santi! abisin yah" Kata Karin, kakak keduanya setelah bang Ahmad "hehe, bantuin dong, biar kakak kurus" kata Santi "males ah, lagi Diet!" kata kakaknya "hah? Diet darimana? badan tambah melar gitu... kemarin aja makan mi goreng sampai 2 bungkus belum kenyang juga! pake nasi lagi! ehh, main telen susu sereal yang adek bikin" jawab Santi. "Enak aja, emang diet mudah apa? hmm belum tau rasanya Diet yah, anak kecil gak bakalan tau" jawab kakaknya sombong sembari menyempilkan cengiran mengejek.

"Assalamualaikum" ada yang datang, "Wa'alaikumsalam," jawab Santi sembari berlari membuka pintu. "Oh, bang Ahmad!" "hmm Bau apaan nih... bikin laper." kata Ahmad senyum-senyum.
"Ada duren" kata Santi "Oh... Pesta duren, pesta duren, duren duren, duren duren, uen uen" kata Ahmad sambil joget-joget gak jelas kegirangan.

"Loh, apa ini kok ribut-ribut?" sahut ayah mereka bertiga. "oooh ada duren" jawabnya langsung... "Ahmad makannya jangan banyak-banyak!" kata ayahnya "hah, iya!! lagian juga aku kan anak baik... gak kayak Santi, isi badannya cuman tulang ama dosa doang" kata Ahmad "eh, enak aja, Gini-gini banyak yang suka, ranking 1 lagi, abang yang kegendutan!" sahut Santi "sayang, aku bukannya gendut, cuman lupa diri aja waktu makan"

Lalu mereka makan malam, dan ditutup dengan durian... Hanya 1 Durian, tapi cukup membahagiakan 5 orang, 1 keluarga.

Bukan Tentang Durian, Tapi kehangatan dan kebersamaan keluarga yang utuh

Utuh, Ayah Ibu dan Anak-anak mereka

Harapan, meniti Harapan dengan Kebersamaan...

2 bulan kemudian

"aku pulang"
"selamat datang"
"huh, Ayah" Sahut 2 manusia itu, Ahmad dan Santi sedih
"sudah 2 bulan ya dik" kata Ahmad
"ya, aku beli durian nih" jawab Santi
"setelah malam itu, kamu ingat?"
"hmm, ya bang... tabrakan itu"
"..."
"..."

Keduanya terdiam, 2 anak itu ditakdirkan untuk hidup, setelah kehilangan Ibu Ayah dan Karin.
Dalam kecelakaan, ketika mereka berdua dititipkan dirumah nenek...
Sementara Ibu Ayah dan Karin, pergi membeli sarapan...

Pedih, jerit hati, ingin tangisi, namun hanya sendiri
Kesedihan, bagaikan sebuah dahan, pondasi kehidupan pribadi
Tangis tak ada arti, melebihi kemampuan mereka
Tuhan berkuasa, Tuhan Adil, Kematian itu pantas, tinggal menunggu waktu

"Oiya, nih Buat uang jajan"
"hah? uang darimana kak?"
" ya kerja lah, terus uang "kasihan" dari kantor mama dan papa... kata mereka, mereka mau memberi kita uang tiap bulannya, sebagai uang... "
"pensiunan?"
"entahlah, kurang lebih seperti itu"

Tertegun mereka berdua, waktu tak bisa diulang...

"mau durennya gak?"
"mau tapi setelah makan malam"
"ooh yaudah"

Obrolan dialihkan, tapi mereka tak mampu membohongi, sakit hati mereka tak bisa dilukiskan kata-kata.
Akhirnya, Obrolan pun berakhir...

"huh, Ayah..." Sahut mereka berdua

TAMAT... T.T,